15875652882_1cd84a7b60_o

Tips Memilih Murai Batu Borneo

October 10, 2016
936 Views

15823659101_b31220a0fc_o

Tips Memilih Murai Batu Borneo
Pilih warna bulu dada yang coklat muda, lebih terang/muda lebih baik. Kalau ada yang supak (agak keputihan tetapi bukan blorok) lebih baik lagi. Murai Batu Borneo dengan warna-warna bulu dada seperti tersebut rata-rata memiliki sifat fighter yang tinggi dan kerjanya ngedur.

Dari variasi warna kaki Murai Batu Borneo yang pernah saya temui, skala prioritas memilih Murai Batu Borneo melihat dari warna kaki adalah coklat kehitaman (warna tanduk), hitam pekat, dan coklat kemerahan.

“Jangan pilih warna kaki yang putih kekuningan, karena selain belum pernah ada yang jenis ini koncer di kontes, saya juga pernah merawatnya dan hasilnya menurut saya sangat mengecewakan. Mental serta daya tarungnya kurang serta terlalu lambat untuk jadi,” ungkap Rifqie KM.

Panjang ekor pilih yang agak pendek, dari 13 sampai 10 cm, bentuk kepala utamakan memilih yang berbentuk papak, pilihlah yang memiliki tatapan tajam dan mata tidak terlihat sayu.

“Pada saat berkicau, perhatikan intensitas bukaan paruhnya. Pilih yang bukaannya lebar, biasanya saat tarung akan mengeluarkan tembakan dengan full power,” ujar Rifqie.

Carilah yang mempunyai leher yang agak besar, ini biasanya menunjukkan besarnya volume suara yang dapat dikeluarkan. Selain hal-hal tersebut di atas, secara umum pemilihan Murai Borneo berbakat sama dengan Murai Batu berbakat jenis lainnya.

Karakter suara murai batu borneo
Pendapat karakter suara Murai Batu Borneo adalah ngebass dan monoton, ini tidak benar. Dengan perawatan yang benar, pemilihan masteran tepat dan proses mastering yang intensif, Murai Borneo akan memiliki suara/lagu yang berkualitas.

Karena kebanyakan Murai Borneo bertype nembak-nembak, pilih masteran utama dengan type nembak seperti Cililin, LB, Pelatuk, Belibis, dan lainnya.

Pola Ekor Murai Batu Borneo
Pola ekor Murai Batu Borneo adalah terdiri dari enam pasang (12 helai) bulu, dengan dua pasang bulu hitam dan empat pasang bulu putih (bulu penyangga).

Bulu ekor putih Murai Batu Borneo sendiri banyak polanya, di antaranya bulu ekor putih polos semua dengan semburat hitam pada bagian ujungnya, ekor putih dengan 3 pasang polos dan sepasang (ekor putih terpanjang) berwarna separuh hitam, empat pasang bulu ekor putih berwarna hitam pada pangkal bulunya, dan ada yang ekornya berwarna hitam semua.

Namun dewasa ini, sering terjadi perdebatan mana itu Murai Batu Borneo dan mana itu Murai Batu Lampung. Banyak Murai Batu yang diklaim Lampung, pada kenyataannya nggembung juga. Yang memprihatinkan, masalah ini sering menjadi percekcokan antarkicaumania hingga muncul tuduhan penipuan.

15875652882_1cd84a7b60_o

Nasib Murai Batu Borneo di Lomba
Diakui atau tidak, Murai Batu Borneo masih dipandang sebelah mata di ajang-ajang lomba burung berkicau di Pulau Jawa dan Sumatera. Hanya di lomba-lomba yang sangat besar saja yang membuka kelas Murai Batu Borneo. Namun sebaliknya di Pulau Kalimantan yang menjadi endemiknya, lomba kelas Murai Batu Borneo lebih populer dibandingkan Murai Batu Sumatera.

Dari pengamatan di lapangan, banyak faktor yang menyebabkan kenapa Murai Batu Borneo ini kurang populer untuk dilombakan di Pulau Jawa dan Sumatera. Di antaranya karena faktor selera kicaumania, perbedaan gaya burung, bahkan hingga faktor ekonomi.

Namun sebenarnya, bagi kicaumania yang paham Murai Batu, antara Murai Batu Borneo dan Murai Batu Sumatera sama saja, judulnya tetap Murai Batu. Jadi, faktor utama yang menyebabkan Murai Batu Borneo kurang diminati di Jawa dan Sumatera lebih karena ekonomi, yang dipicu ulah spekulasi pedagang.

Mengingat populasi Murai Batu Sumatera yang semakin langka di hutan, menjadi alasan khusus bagi pedagang untuk melambungkan harganya. Sehingga, jika Murai Batu Borneo bisa populer di ajang lomba, maka dipastikan harga Murai Batu Sumatera akan turun drastis bahkan atau bersaing dengan Murai Batu Borneo.

Sejumlah kicaumania beralasan kenapa enggan merawat Murai Batu Borneo, karena saat mengikutsertakan dalam lomba-lomba, selalu tidak dianggap oleh juri. Namun ada juga yang beralasan bahwa jika Murai Batu Borneo digantangkan campur dengan Murai Batu Sumatera, bisa menyebabkan Murai Batu Sumatera rusak mengingat mental tempur Murai Batu Borneo sebenarnya lebih dahsyat.

“Tak heran jika masih jarang pemainnya, karena banyak stigma pada Murai Batu Borneo sebagai burung kelas dua, kurang bergengsi, gaya mbalon, ngendok. Ada juga yang mengatakan bikin birahi Murai Batu Sumatra karena gayanya seperti Murai Batu betina mantuk-mantuk,” ungkap Yohanes Tatit (Om Yo), penggemar Murai Batu Borneo dari Tarung Jawara SF.

Om Yo berharap, kedepannya, Murai Batu Borneo bisa disatukan dengan Murai Batu Sumatera di event-event lomba. Alasannya, selain tak kalah menarik, Murai Batu Borneo juga memiliki suara-suara yang bagus saat digantang meski lebih pendek-pendek lagunya karena gaya fighter-nya.

“Harusnya iya, masuk kelas umum saja. Saya kurang setuju kalau di kelas khusus malah. Karena di situ seninya yaitu menampilkan Murai Batu Borneo agar tampil maksimal dan bisa menarik perhatian juri. Murai Batu Borneo harus kerja dua kali lipat untuk mengalahkan Murai Batu lain. Sudah ngotot fisik, harus ngotok lagu pula,” papar Om Yo.

Di sisi lain, gengsi kicaumania yang malu mengikutsertakan Murai Batu Borneo di dalam lomba turut mempengaruhi kenapa Event Organizer (EO) di Jawa dan Sumatera enggan membuka kelas Murai Batu Borneo. Karena kalaupun dibuka kelasnya, selalu sepi pendaftar sehingga EO pun kapok untuk membuka kelasnya lagi di event-event berikutnya.

Sebenarnya, beberapa EO di wilayah Jabodetabek mulai memberikan apresiasi tinggi terhadap keberadaan Murai Batu Borneo, misalnya dalam Seri VIII Liga Ronggolawe Jabodetabek di Bintaro 9 Walk Sektor IX, Tangerang Selatan dan Seri Penutup (XII) Liga Ronggolawe Jabodetabek di Brigif 202 Tajimalela, Jalan Raya Narogong, Rawa Panjang, Bekasi beberapa waktu lalu.

Saat di Seri VIII memang sempat ada pesertanya walau tidak banyak. Di event itu Murai Batu Borneo Total Anarchy, Dimas Aryokusumo yang menjadi juaranya. Namun saat di Seri Penutup, sayang kelas ini dibatalkan karena hanya ada dua pesertanya, salah satunya Giri Prakosa (Giri KM) yang datang jauh-jauh dari Jakarta.

Padahal, penggemar Murai Batu Borneo di Jawa terbilang banyak, terutama di wilayah Jabodetabek, dan EO sebesar Ebod Jaya sudah menunjukkan kepeduliannya. Jadi, naik tidaknya kelas Murai Batu Borneo ini yang menentukan adalah kicaumania sendiri, bukan karena pedagang ataupun EO. (giriondeadline/KM)

Leave A Comment