feature-mata-burung

BURUNG BUTA WARNA?

October 17, 2016
456 Views
birdeye

Anatomi mata burung

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa penglihatan pada burung tidak seperti pengelihatan pada manusia yang dapat membedakan warna, dengan kata lain burung itu buta warna. Tertarik untuk mencari literature tentang penglihatan burung yang sebenarnya seperti apa, maka berikut beberapa teorinya :

Persepsi cahaya

Mata burung memiliki dua macam reseptor cahaya, reseptor cahaya batang dan reseptor cahaya kerucut. Reseptor cahaya yang berisi pigmen penglihatan rhodopsin lebih baik untuk penglihatan malam hari karena mereka peka terhadap jumlah cahaya yang sedikit. Reseptor cahaya kerucut mampu mendeteksi warna tertentu (atau panjang gelombang) cahaya, sehingga lebih penting hewan yang berorientasi warna seperti burung.[18] Kebanyakan burung tetrakromatik, memiliki empat jenis sel fotoreseptor kerucut, masing-masing dengan puncak serapan maksimal yang berbeda. Dalam beberapa burung, puncak penyerapan maksimal dari sel fotoreseptor kerucut bertanggung jawab terhadap panjang gelombang terpendek yang mampu dilihat, yang meluas sampai ke kisaran (UV) ultraviolet, membuat mereka sensitiv terhadap sinar ultraviolet.[19]Burung merpati memiliki pigmen tambahan dan karena itu pentakromatik.[20]

Keempat spektrum pigmen fotoreseptor kerucut yang berbeda, berasal dari opsin, terkait dengan molekul kecil yang disebutretina, yang erat berhubungan dengan vitamin A. Ketika pigmen menyerap cahaya, retina berubah bentuk dan berpotensi mengubah membran dari sel fotoreseptor kerucut yang mempengaruhi neuron di lapisan ganglion retina. Setiap neuron dalam lapisan ganglion dapat memproses informasi dari sejumlah sel fotoreseptor, dan pada gilirannya dapat memicu impuls saraf untuk menyampaikan informasi sepanjang saraf optik untuk diproses lebih lanjut di pusat-pusat penglihatan khusus di otak. Semakin intens cahaya, foton lebih banyak diserap oleh pigmen visual, semakin besar eksitasi dari setiap fotoreseptor kerucut, dan muncul cahaya terang.[18]

Sejauh ini pigmen fotoreseptor kerucut yang paling banyak ditemui dalam setiap jenis burung yang sudah diperiksa adalah bentuk panjang gelombang panjang iodopsin, yang menyerap panjang gelombang sekitar 570 nm. Ini kira-kira kawasanspektrum warna merah dan hijau, dan pigmen ini mendominasi sensitivitas penglihatan warna pada burung.[20] Pada pinguinpuncak serapan pigmen fotoreseptor kerucut bergeser menjadi 543 nm untuk, untuk beradaptasi ke lingkungan air laut yang biru.[21]

Informasi yang disampaikan oleh sel kerucut tunggal itu terbatas: dengan sendirinya, sel tidak dapat memberitahu otakpanjang gelombang cahaya yang mana yang menyebapkan perangsangan. Sebuah pigmen penglihatan dapat menyerap dua panjang gelombang yang sama, tapi meskipun foton mereka memiliki energi yang berbeda, sel kerucut tidak dapat membedakan mereka, sebab mereka berdua menyebabkan retina berubah bentuk dan memicu impuls yang sama. Agar otak dapat melihat warna, ia harus membandingkan respon dari dua atau lebih sel kerucut yang mengandung pigmen visual yang berbeda, sehingga ke empat pigmen pada burung makin meningkatkan kemampuan burung membedakan warna.[18]

Setiap sel kerucut pada burung atau reptil mengandung tetesan minyak berwarna, hal ini tidak lagi ada pada mamalia. Tetesan ini, yang mengandung karotenoid dalam konsentrasi tinggi, bertindak sebagai filter, menghapus beberapa panjang gelombang dan mempersempit spektrum penyerapan pigmen. Hal ini mengurangi respon yang tumpang tindih antara pigmen dan meningkatkan jumlah warna yang bisa dibedakan oleh burung.[18] Ada enam jenis tetesan minyak berwarna yang telah diidentifikasi, lima di antaranya memiliki campuran karotenoid mampu menyerap panjang gelombang dan intensitas yang berbeda, sedang jenis keenam tidak memiliki pigmen.[22] Pigmen dengan puncak penyerapan maksimal terendah termasuk yang sensitif terhadap UV , memiliki jenis tetesan minyak ‘bening’ atau ‘transparan’ dengan efek penyesuaian spektrum yang telativ kecil.[23]

Warna dan distribusi tetesan minyak retina sangat bervariasi di antara spesies, hal ini lebih ditentukan oleh lingkungan ekologi (pemburu, pencari ikan, pemakan biji) ketimbang hubungan genetik. Sebagai contoh, burung pemburu siang seperti layang-layang asia dan burung pemangsa memiliki tetesan berwarna sedikit, sedangkan burung pemakan ikan permukaan Dara-laut Biasa memiliki sejumlah besar tetesan merah dan kuning di belakang retina.[20] Bahkan dalam rentang panjang gelombang yang dapat dilihat manusia, burung pengicau dapat mendeteksi perbedaan warna yang tidak dapat dilakukan manusia. Ini perbedaan yang cukup kecil, bersama dengan kemampuan burung untuk melihat sinar ultraviolet, hal ini juga berarti burung mampu melihat dimorfisme seksual banyak spesies, sementara manusia tidak mampu.[24]

Dalam bermigrasi, burung penyanyi memanfaatkan medan magnet bumi, bintang, matahari, dan pola cahaya terpolarisasi untuk menentukan arah perpindahan mereka. Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa migrasi burung pipit Savannah menggunakan cahaya terpolarisasi dari langit dekat horison untuk mengkalibrasi ulang sistem navigasi magnetik mereka pada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Hal ini menunjukkan bahwa pola polarisasi cahaya langit merupakan referensi kalibrasi utama untuk semua burung penyanyi pada saat migrasi.[25] Namun, tampak juga bahwa burung dapat menanggapi indikator sekunder dari sudut polarisasi, dan mungkin tidak benar-benar mampu langsung mendeteksi arah polarisasi tanpa adanya isyarat ini.[26]

keempat-pigmen-dalam-sel-fotoreseptor-kerucut-burung-memperluas-jangkauan-penglihatan-warna-sampai-ke-ultraviolet-1617

Keempat pigmen dalam sel fotoreseptor kerucut burung memperluas jangkauan penglihatan warna sampai ke ultraviolet.

 

Ultraviolet

Beberapa jenis burung dapat melihat sinar ultraviolet[27], yang memiliki peran penting dalam proses percumbuan. Banyak burung yang memperlihatkan pola bulu dalam sinar ultraviolet yang tak terlihat oleh mata manusia. Beberapa burung yang tidak dapat dikenali jenis kelaminnya dengan mata telanjang, dapat dibedakan melalui pola-pola pantulan sinar ultraviolet pada bulu mereka.Burung gelatik biru jantan memiliki pola kilauan ultraviolet pada jambulnya, yang ditampilkan dengan menaikkan bulu tengkuk mereka ketika berupaya menarik perhatian pasangannya.[28] Burung rio-rio biru jantan, yang memiliki warna bulu biru paling cerah dan paling mendekati ultraviolet, adalah yang memiliki wilayah yang paling luas dengan mangsa melimpah, dan memberi makan anak-anaknya lebih sering daripada burung jantan lainnya.[18]

Penampilan paruh cukup penting dalam interaksi burung sikatan-hitam. Meskipun komponen UV tampaknya tidak penting dalam interaksi antara pejantan penguasa wilayah, di mana tingkat warna oranye di sini memegang peranan, burung betina merespon lebih kuat terhadap burung jantan yang memiliki pantulan UV terbaik.[29]

Kemampuan melihat UV dapat memberikan keuntungan bagi binatang dalam mencari makanannya. Lapisan lilin yang dijumpai pada banyak macam buah-buahan, memantulkan cahaya UV yang bisa menunjukkan keberadaan buah-buahan tersebut.[18] Alap-alap erasia dapat menemukan jejak tikus secara visual. Hewan pengerat kecil itu meninggalkan bekas air seni dan tinja yang memantulkan sinar UV, membuatnya terlihat oleh burung alap-alap, terutama di musim semi sebelum tanda tersebut tertutup oleh oleh tumbuh-tumbuhan.[30]

 

  1. ^a b c d e f Goldsmith, Timothy H. (July 2006). “What birds see” (PDF).Scientific American: 69–75. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2011-04-10.
  2. ^Wilkie, Susan E.; Vissers, PM; Das, D; Degrip, WJ; Bowmaker, JK; Hunt, DM (1998). “The molecular basis for UV vision in birds: spectral characteristics, cDNA sequence and retinal localization of the UV-sensitive visual pigment of the budgerigar (Melopsittacus undulatus)”Biochemical Journal 330 (Pt 1): 541–47.PMC 1219171PMID 9461554.
  3. ^a b c d Varela, F. J.; Palacios, A. G.; Goldsmith T. M. “Color vision in birds” in Ziegler & Bischof (1993) 77–94
  4. ^Bowmaker, J. K.; Martin, G. R. (January 1985). “Visual pigments and oil droplets in the penguin, Spheniscus humbolti“. Journal of Comparative Physiology 156 (1): 71–77. doi:1007/BF00610668.
  5. ^Goldsmith, T. H.; Collins, JS; Licht, S (1984). “The cone oil droplets of avian retinas”. Vision Research. 24 (11): 1661–1671. doi:1016/0042-6989(84)90324-9PMID 6533991.
  6. ^Vorobyev, M.; Osorio, D., Bennett, A. T. D., Marshall, N. J., Cuthill, I. C. (3).“Tetrachromacy, oil droplets and bird plumage colours” (PDF). Journal of Comparative Physiology A: Neuroethology Sensory Neural and Behavioral Physiology 183 (5): 621–633.
  7. ^Eaton, Muir D. (August 2005). “Human vision fails to distinguish widespread sexual dichromatism among sexually “monochromatic” birds”Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 102 (31): 10942–10946. doi:1073/pnas.0501891102PMC 1182419.PMID 16033870.
  8. ^Muheim, Rachel; Phillips, JB; Akesson, S (August 2006). “Polarized light cues underlie compass calibration in migratory songbirds” (PDF). Science 313(5788): 837–839. doi:1126/science.1129709PMID 16902138.
  9. ^Greenwood, Verity J.; Smith, EL; Church, SC; Partridge, JC (2003).“Behavioural investigation of polarisation sensitivity in the Japanese quail (Coturnix coturnix japonica) and the European starling (Sturnus vulgaris)”The Journal of Experimental Biology 206 (Pt 18): 3201–3210. doi:1242/jeb.00537.PMID 12909701.
  10. ^Carvalho, L. S.; Cowling, J. A., Wilkie, S. E., Bowmaker, J. K., Hunt, D. M. (2007). “The molecular evolution of avian ultraviolet- and violet-sensitive visual pigments” (PDF). Molecular Biology and Evolution 24 (8): 1843–52.doi:1093/molbev/msm109.
  11. ^Andersson, S.; J. Ornborg & M. Andersson (1998). “Ultraviolet sexual dimorphism and assortative mating in blue tits”Proceeding of the Royal Society B 265 (1395): 445–50. doi:1098/rspb.1998.0315.
  12. ^Bright, Ashleigh.; Waas, Joseph R. (August 2002). “Effects of bill pigmentation and UV reflectance during territory establishment in blackbirds” (PDF). Animal Behaviour 64 (2): 207–213. doi:1006/anbe.2002.3042.
  13. ^Viitala, Jussi; Korplmäki, Erkki; Palokangas, Pälvl; Koivula, Minna (1995). “Attraction of kestrels to vole scent marks visible in ultraviolet light”. Nature 373(6513): 425–27. doi:1038/373425a0.
  14. ^Sekuler A B, Lee J A J, Shettleworth S J (1996). “Pigeons do not complete partly occluded figures”. Perception 25 (9): 1109–1120. doi:1068/p251109.PMID 8983050.
  15. ^Bhagavatula P, Claudianos C, Ibbotson M, Srinivasan M (2009). Warrant, Eric, ed. “Edge Detection in Landing Budgerigars (Melopsittacus undulatus)”PLoS ONE 4 (10): e7301. doi:1371/journal.pone.0007301PMC 2752810.PMID 19809500.

Leave A Comment